MAKSIAT SAAT PUASA?
Manusia tak berbeda dengan hewan lainnya yang memerlukan makanan dan minuman.
Namun mengapa Allah justru meminta manusia menghentikan makan, minum bahkan berhubungan seks dengan mahram sekalipun, pada saat tertentu?
Tujuannya satu, agar manusia lebih dekat dengan Allah.
Dalam puasa kita memang tidak melakukan gerakan seperti halnya sholat. Kita melakukan aktivitas seperti biasanya. Hanya saja kali ini tidak boleh makan, minum, dsb. Peristiwa menahan lantaran patuh yang dilaksanakan atas perintah-Nya inilah yang menimbulkan efek positif bagi "dhamir" si pelakunya.
Kabar baiknya, jika dhamir ini selalu aktif dalam waktu 30 hari karena Allah belaka, maka sinyal motoriknya semakin halus, semakin peka, bahwa daya redam hawa nafsu pun berkurang. Inilah puncak spiritualitas manusia.
Inilah mengapa, dalam QS Al Baqarah ayat 183 disebutkan kata taqwa. Seakan akan Allah berkata, "Ku beri suatu amalan, untuk menaikkan derajatmu menjadi manusia yang lebih bertaqwa."
So, nggk ada lagi pertanyaan. Boleh tidak puasa tapi menyontek. Boleh tidak puasa tapi berpacaran. Boleh tidak puasa tapi menghibahi orang. Jelas tidak, berarti kita menyalahi puasa yang sebenarnya menjadi zikir khafi bagi kita. Yakni kegiatan ingat kepada Allah terus menerus sepanjang hari. Akankah dalam keadaan berzikir kita sembari bermaksiat, kawan?
Ini tentunya nasihat untuk pribadi agar lebih menjadi hamba yang benar-benar hamba.
Yuk kita sama-sama belajar.
Doakan semoga dilain kesempatan bisa sharing tentang esensi Ramadhan itu sendiri yaa..
Sumber:
Walid (Kyai Ahsin Sakho Muhammad)
Ustadz Adi Hidayat
Komentar
Posting Komentar